Rabu, 26 Maret 2008

SULAP ASMA - Ala Karuk dan Pegagan

Mata Roni terbelalak. Obat penyakit asma untuk istri tercinta, yang baru saja ditebusnya dari rumah obat ternyata bernilai ratusan ribu rupiah. “Obat semprotnya yang mahal, Mas”, komentar kasir apotek. Diperjalanan pulang, pikiran Roni melayang jauh. “Kalau begini terus, aku bisa tekor”, ujarnya lirih.
Adakah obat alternatif nan murah buat asma?
Istri Roni sendiri baru beberapa bulan terakhir ini rajin memeriksakan diri ke dokter. Sebelumnya, karena jarang menyerang, gejala sesak napas diiringi alunan ngak-ngik-ngok itu tak dianggapnya sebagai ancaman serius. Dari dokter, Roni juga tahu, dalam 30 tahun terakhir, orang dewasa yang terjangkit asma jumlahnya meningkat pesat. Selain faktor keturunan, buruknya situasi sanitasi dan lingkungan, ikut andil di dalamnya.
Apalagi sudah bukan rahasia lagi, udara kota-kota besar kini dijajah polusi. Di mana-mana ada gas buang berupa nitrogen oksida atau karbon monoksida yang dihasilkan asap kendaraan bermotor maupun asap rokok. Untunglah Roni mempunyai karib yang bekerja di sebuah laboratorium penelitian tanaman obat. “Coba deh, kamu coba pegagan dan karuk”, saran Prabowo, sang teman. Saran yang singkat, tapi benar-benar memberi pencerahan.

Tersumbat Lendir

Penyakit asma dikenal orang sejak 2.000 tahun lalu sebagai penyakit alergi. Dalam bahasa Yunani kuno, kata asma secara harfiah dapat diartikan sebagai sesak napas. Orang yang sedang terserang penyakit asma memang merasakan dadanya sesak. Bisa berat, dapat juga ringan. Paling repot kalau serangan datang tengah malam, seperti sering dialami istri Roni. “Saya terpaksa ikut bergadang”, curhatnya pada Prabowo. Biasanya anak-anak lebih rentan terhadap penyakit ini. Ciri-ciri pemunculannya bisa berupa batuk-batuk, sering mengeluarkan dahak, sesak napas, sampai gangguan tenggorokan. Sedangkan orang dewasa umunya lebih sering terserang asma bronkial, yang disertai peradangan pada selaput lendir hidung.
Serbuan asma, kadang datang mendadak, mengakibatkan sesak napas yang timbul berulang-ulang, desertai napas berbunyi ngiiik. Hal itu akibat kontraksi kejang (spasmodik) bronkus kecil. Penyakit alergi turun-temurun ini sanggup bertahan selama beberapa hari, karena saluran napas bagian bawah (bronchi) mengalami penyempitan akibat radang. Berkerutnya otot polos saluran pernapasan membuat selaput lendir membengkak dan membentuk timbunan lendir berlebihan. Alhasil, napas jadi sesak.
Ketika bertandang ke kantor Prabowo, Roni mendapat penjelasan mengapa ia disarankan membuat ramuan pegagan atau karuk. Berdasarkan penelitian, terdapat beberapa jenis tumbuhan yang terbukti efektif mengobati penyakit alergi seperti asma. Prabowo lalu menunjukkan hasil penelitian yang dilakukan sejumlah ilmuwan mancanegara yang berkaitan dengan asma.
Salah satunya, penelitian yang dilakukan Vimala dan kawan-kawan. Dalam Nature’s Choice to Wellness Antioxidan Vegetables (2003) mereka menyatakan, bukan hanya vitamin A, D, E dan C serta betakaroten yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Beberapa jenis tumbuhan obat pun memiliki senyawa fitokimia dalam kadar tinggi, yang bersifat antioksidan alami, seperti lignan, flovonoid, asam fenol, alkaloid, asam amino.

Senyawa Sakti

Menurut Prabowo, yang berkantor di Ragunan, Jakarta Selatan, tanaman pegagan (Centela asiatica) dan karuk (Piper Sarmentosum) termasuk dua dari beberapa tumbuhan yang menyimpan sifat antioksidasi tinggi. Pegagan merupakan tanaman obat dari keluarga Apiaceae yang lazim tumbuh dan tersebar di kawasan tropis maupun subtropis.
Di Indonesia pegagan mudah ditemukan di lahan yang lembab, sepanjang tepian sungai, maupun rerumputan yang cukup mendapat sinar matahari. Tumbuhan ini juga banyak ditemukan di kawasan pegunungan, sampai ketinggian 2.500 m di atas permukaan laut. Biasanya ditanam orang sebagai tanaman penutup tanah dan sayuran, yang kadang dipakai juga untuk lalapan.
Pegagan masuk kategori terna menahun tanpa batang, dengan rimpang pendek dan stolon-stolon merayap. Akar keluar dari setiap bonggolnya, dengan banyak cabang yang berugas membentuk tumbuhan baru. Daunnya berupa daun tunggal berbentuk ginjal dengan tangkai berukuran 5 – 15 cm. Tepinya bergerigi, sementara bunganya berwarna putih atau merah muda, yang tersusun dalam karangan berbentuk payung. Bunga itu keluar dari ketiak daun dengan tangkai pendek. Sedangkan buahnya kecil bergantung, berbentuk lonjong atau pipih.
Di Cina, pegagan telah ribuan tahun digunakan sebagai obat kuat (tonik) yang menyehatkan. Dalam ilmu farmasi ia dikenal juga sebagai Folia hidrocotyles, yang dipercaya bisa meningkatkan ketahanan tubuh, mencuci darah, dan memperlancar keluarnya air seni (diuretik). Masyarakat timur jauh Eropa menggunakan pegagan untuk menyembuhkan penyakit menular kronis yang disebabkan Mycobacterium leprae (lepra) dan tuberkilosis (TBC).
Manfaat lain dari pegagan, ia memberi pengaruh positif berupa daya rangsang otak dan memperbaiki sirkulasi darah pada pembuluh otak. Orang Sunda memanfaatkan daunnya yang masih segar sebagai lalap, terutama buat penderita kepikunan, obat darah tinggi, strike, asma dan ibu habis melahirkan agar selalu terlihat awet muda. Namun, wanita muda sebaiknya tidak mengkonsumsi tanaman ini, karena dipercaya dapat mengurangi kesuburan.
Di Malaysia, pegagan telah lama digunakan untuk mengobati bronchitis, asma, pengeluaran getah lambung yang berlebihan (maag), keputihan, gangguan ginjal, serta radang saluran kencing.
Pegagan mengandung senyawa campuran trilepenoid dengan komponen utamanya asiticoside, madecassoside, asam asiatic, dan asam madecassic. Senyawa-senyawa itu mumpuni sebagai antiradang penyembuh luka luar biasa, seperti luka bakar, sirosis hati, infeksi lipra dan borok.
Senyawa triterpene berpengaruh pada metabolisme dalam jaringan, yang berhubungan dengan sirkulasi darah pada saraf halus. Pegagan juga mengandung vitamin A dan C sebagai antioksidan alami. Vitamin A berperan membangun daya tahan tubuh terhadap infeksi pernapasan. Sedangkan vitamin C berfungsi mencegah infeksi berbagai jenis virus maupun bakteri, serta mencegah alergi. Juga bermanfaat pada pengobatan radang usus besar, asma, bronchitis dan penurunan kadar kolesterol darah.

Bau Tajam

Selain pegagan, tanaman karuk juga dikenal sebagai obat antiasma. Karuk termasuk tumbuhan obat dari keluarga Piperaceae. Orang Jawa menyebutnya cabean, sedangkan di Sumatera ia dipanggil sirih dudu atau karok. Sebutan amelaunune, gafutofure, kado-kado atau sirih tanah didapat karok dari orang Maluku.
Di tanah Pasundan karuk sudah lama dimanfaatkan sebagai obat batuk dan obat asma. Sebagai tumbuhan tegak dan menjalar, tingginya dapat mencapai 0.25 – 1 m. Sementara daunnya rada runcing, berbentuk mirip jantung, tak beda jauh dengan daun sirih. Warna daunnya biasanya hijau sampai hijau muda mengkilap, dengan ukuran antara 7 – 15 cm sampai 0.3 – 0.5 cm.
Bunganya berumah satu, berbentuk agak bulat. Buah karuk mirip dengan buah berry, agak lonjong dan berwarna putih kehijauan. Tanaman ini ditemukan pertama kali di daerah Cina Selatan, kemudian diperkenalkan ke Indonesia, sebelum akhirnya menyebar luas sampai semenanjung Melayu. Menurut Vimala dan kawan-kawan, karuk di Malaysia telah lama digunakan sebagai obat malaria, batuk, selesma, sakit tulang, sakit pinggang, sakit gigi dan cacingan.
Rebusan daun karuk yang ditumbuk juga dapat digunakan sebagai obat urut pasien lumpuh dan sakit tulang. Sementara lulur bahan daunnya biasa dijadikan param kulit dan pengobat sakit kepala. Daun karuk , bersama biji pinang, jika dikunyah dapat mengobati batuk dan asma kronis.
Berkolaborasi dengan jahe, karuk berpotensi mengobati sakit gigi. Jika daun karuk itu dihangatkan, ia bisa dijadikan sebagai tapal dada pada orang yang sedang sakit batuk dan sakit tenggorokan.
Likhiwitaymuid dalam Tetrahedron, menyebut karuk mengandung beta sitostenol dan amidepelliterine. Karuk masih mempunyai pasukan lain, yaitu empat senyawa akene, pyrrole amide dan dua senyawa tak jenuh, pyrrolidine amides yang dikenal dengan nama sarmentine, serta sarmentosine. Senyawa alkene mempunyai efek menciutkan selaput lendir, selain bersifat aromatik (cocok untuk bahan parfum/kosmetik).
Senyawa paling penting dalam penyembuhan batuk dan asma adalah pyrroleamide, yang juga berperan sebagai peluruh dahak (ekspektoran). Sebagai tanaman obat, karuk menghangatkan, memberi kesejukan, antiradang dan mampu meredakan rasa sakit. Baunya yang tajam juga baik dicoba untuk meredakan pernapasan. Kandungan karuk lainnya, yaitu kalsium, kalium, magnesium, karoten, niacin, vitamin B1, B2 dan C dikenal sebagai antioksidan alami.
Vimala dan kawan-kawan meyakini, karuk memiliki aktivitas antioksidan sangat tinggi. Setidaknya, tercermin dalam tiga kali uji coba yang mereka lakukan. Tak heran kalau daun segarnya yang sering dikonsumsi sebagai sayuran dapat mencegah penyakit kronis dan baik untuk sekadar menjaga kesehatan.

TIPS

Cara membuat ramuan pemberantas asma dengan pegagan
  • Ambil satu genggam pegagan segar, tumbuk sampai halus, kemudian seduh dengan setengah gelas air panas
  • Tambahkan gula atau madu secukupnya, lalu aduk dan dinginkan
Ramuan siap saji (untuk sekali minum) pun segera bisa jadi obat asma. Bila pasienya anak-anak, campur tumbukan pegagan tadi dengan susu kesukaannya. Ramuan ini diminum dua kali sehari, pagi dan sore.

Cara membuat ramuan pemberantas asma dengan karuk
  • Ambil 3 – 5 lembar daun karuk untuk dosis sekali minum, kemudian tumbuk sampai halus, seperti jamu
  • Supaya lebih sedap, tambahkan gula atau madu secukupnya
  • Seduh dengan air panas sekitar setengah gelas, aduk sampai merata dan dinginkan
Sama seperti pegagan, ramuan ini cukup diminum dua kali sehari, pagi dan sore.


Oleh Samiran – Staf Balitbang Botani, LIPI, Bogor
Intisari edisi Des 2004

1 komentar:

Tata gunawan mengatakan...

selalu menarik bila membaca artikel tentang sesuatu hal yang baru