Rabu, 30 April 2008

KENANGA DAN MENGKUDU – Obat Hepatitis

Pencegahan hepatitis yang paling popular adalah dengan vaksinasi. Sedangkan pengobatannya yang paling efektif masih terus diupayakan. Diantaranya dengan memanfaatkan tanaman berkhasiat obat, misalnya kenanga, mengkudu, dan meniran seperti diungkapkan Dr. Chairul, Apt. MSc. dari balitbang Botani, Puslitbang Biologi LIPI, Bogor.

Hepatitis dapat menyerang segala lapisan masyarakat, dari konglomerat yang tinggalnya di lingkungan bersih dan nyaman hingga kaum melarat di lingkungan kumuh. Penanggulangan penyakit yang berupa kelainan fungsi organ hati ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu istirahat total disertai diet ketat. Tetapi cara ini tidak menjamin kesembuhan. Cara lain, menggunakan obat-obatan. Namun, sampai saat ini pun belum ada obat yang mempunyai khasiat memperbaiki nekrosis sel hati dan mempersingkat perjalanan penyakit hati akut.
Memang ada beberapa jenis obat sitetis yang mempunyai aktivitas sebagai antiviral (pembasmi virus), antiploriferatif, dan khasiat immunomodulasi (penyesuaian respons imun hingga tingkatan yang dikehendaki). Sayangnya, setiap kali digunakan akan timbul berbagai dampak negative (toksik) pada si penderita.
Para pakar farmasi, biologi, dan kimia pun mencari obat hepatitis baru, terutama dari tumbuh-tumbuhan (fitohepatoprotektor). Materinya dapat berupa bahan segar, simplisia (bahan yang dikeringkan, baik tunggal maupun campuran), ekstrak (sari) dan senyawa hasil isolasi dari tumbuh-tumbuhan yang sekarang dipakai sebagai obat tradisional untuk penyakit hati.

Memperkuat Sistem Kekebalan

Dalam beberapa dasawarsa belakangan, pengobatan penyakit hati dengan tanaman baru berupa glycyrrhizin, yaitu ekstrak akar manis atau licorice root (Glycyrrhiza glabra). Dalam akar ini terkandung succus lyquiritae, suatu bahan yang mengandung senyawa glikosida. Bahan ini biasanya dipakai dalam sediaan OBH (obat batuk hitam) atau obat asli Cina Syau Cai Fu Tan. Namun sekarang, beberapa obat baru untuk penyakit hati telah beredar dan produk tersebut mengandung tumbuhan Cardnus marianus, jamur Ganoderma applanatum, dan G. lucidum.
Sayangnya C. marianus atau Silymarin marianum tidak dijumpai di Indonesia. Tanaman tersebut banyak terdapat di daerah Mediterania, Inggris dan Korea. Dua jenis dari suku Cardnus ini, berdasarkan penelusuran pustaka diketahui juga terdapat di Indonesia, yaitu C. crispus dan C. Erasmus. Sayangnya lagi, tidak ada informasi lebih lanjut tentang nama daerahnya (lokal).
Jamur Ganoderma applanatum dan G. lucidum yang merupakan bahan obat tradisional Cina dan Jepang ini, termasuk dalam famili Polyporaceae (Basidomycetes). G. applanatum dapat dijumpai menempel pada batang pohon mati di hutan-hutan. Tanaman ini termasuk golongan pengurai lignin. Sosoknya ditandai dengan warna coklat di bagian atas dan putih di bagian bawahnya. Jamur ini cukup keras kalau dipegang, dan berbentuk setengah lingkaran. Pada kondisi yang cocok jamur ini dapat tumbuh sampai diameter 0.1 – 0.5 m atau lebih.
Sedangkan G. lucidum merupakan pengurai selulosa. Jamur berwarna putih agak kemerahan ini mempunyai aroma agak wangi. Bentuknya paying dengan ukuran 2 – 10 cm tinggi 2 – 5 cm. Tumbuhnya di rumpun-rumpun bamboo di sekitar desa maupun di pinggir hutan.
Menurut laporan hasil riset para pakar di Jepang dan Cina, ekstrak atau rebusan kedua jenis jamur bermanfaat untuk system kekebalan tubuh. Laporan lain menyatakan, kedua jamur mengandung senyawa polisakarida beta-D-glucans dengan rantai panjang, sekitar 8 satuan, dan mempunyai khasiat antitumor. Begitu pula hasil penelitian untuk desertasi penulis terhadap G. applanatum dari Pulau Peucang, Ujung Kulon, beberapa senyawa baru dari golongan asam poliosigenasi tetrasiklik triterpen yang dinamakan Asam Apllanoksidat A-H menunjukkan aktivasi terhadap Epstein-Barr Virus Early Antigen (EBV-EA), yakni virus aktif yang terbentuk dari sel ragi yang dirangsang bahan pengaktif sel (tetradekanoilforbol-O-13-asetat).
Kedua jenis jamur dapat memperkuat system imunitas atau kekebalan tubuh seseorang dan mempertinggi kemampuan memerangi kanker, menambah keseimbangan organ-organ dalam tubuh. Karena itu, keduanya sangat baik untuk mengobati alergi, asma, hepatitis, hepatitis B laten, TBC, rasa nyeri, menurunkan panas, memperbaiki pencernaan, mencairkan dahak, dan secara umum baik untuk paru-paru.
Seluruh bagian jamur bisa dijadikan obat hepatitis. Caranya, dengan menjadikannya serbuk seperti puyer. Untuk sekali minum diperlukan 500 mg serbuk jamur ini. Cara meminumnya seperti meminum puyer biasa atau bersamaan dengan makanan dan buah-buahan. Obat ini relative aman dan tanpa dampak sampingan.

Air Rebusan Meniran

Hasil penelitian di laboratorium Eisei di Tsukuba, Jepang, terhadap beberapa tumbuhan obat Indonesia (TOI) menunjukkan indikasi reaksi pengendalian gangguan penyakit hati. Empat diantaranya menunjukkan reaksi pengendalian kuat, yakni meniran (Phyllanthus niruri), kenanga (Canangium odoratum), mengkudu (Morinda citrifolia), dan galuaju (Bixa orellana). Hasil penelitian itu juga menunjukkan, jahe (Zingiber officianalis), tembelekan (Lantana camara), kayu putih (Malaleuca leucodendron) dan sindur (Sindora glabra), yang mengandung minyak atsiri dengan komponen alfa-kariofilena, memperlihatkan aktivitas pengendalian terhadap gangguan hati yang diberikan karbontetraklorida (CCl4).
Menurut Quisumbing dan Ogata, meniran telah lama digunakan dalam pengobatan penyakit kuning. Tanaman ini merupakan terna semusim, yang tumbuh liar. Biasanya tumbuh di hutan, ladang, semak-semak, sepanjang jalan dan tanah berrumput, tanah lembab, serta bebatuan, pada ketinggian kira-kira 1 – 1000 m di atas permukaan laut (dpl). Penyebarannya di daerah tropis, Cina, Pulau Solomon, dan India.
Hasil pemeriksaan ekstrak alcohol diketahui, tanaman ini antara lain mengandung sekurinin (filantin). Menurut Mulchandani, zat ini merupakan alkaloid pahit yaitu 4-metoksi-norsekurinin. Sedangkan Gupta melaporkan adanya kandungan senyawa glukosida, senyawa yang terdiri atas gugus gula dan bukan gula dan disebut fisetin-4-O-glukosida. Kandungan lainnya berupa nirtetralin, nirantin, hipofilantin, filtetralin, linteralin, biesterasam ftalat (filester) yang terdapat bersama dengan senyawa steroida. Dari isolasi ekstrak heksana yang dilakukan oleh Satyanarayana ditemukan suatu sekolignan yaitu seko-4-hidroksilinteralin dan dua hidrosilignan (seko-isolarisiresinol-trimetrileter dan hidroksi nirantin). Di samping itu meniran juga mengandung saponin, kalium (yang menyebabkan daya diuretis), damar, dan zat samak.
Untuk menggunakan meniran sebagai obat hepatitis, bisa digunakan keseluruhan bagian tumbuhan ini. Caranya, dengan merebus 1 gr meniran kering dalam 1 gelas air. Perebusan dilakukan hingga airnya tinggal setengahnya. Air rebusan diminum sekali habis. Dalam sehari, obat alami ini Cuma boleh diminum maksimal 3 kali.
Perlu diingat, bagi yang menderita gagal ginjal dianjurkan tidak meminum obat tradisional ini. Pemakaian dalam jangka lama akan menyebabkan kerusakan ginjal.

Bunga Kenanga dan Buah Mengkudu

Kenanga yang merupakan tanaman sejawat meniran pengusir hepatitis termasuk tumbuhan berbentuk pohon. Tumbuhnya tidak pernah berkelompok, tetapi sering ditemukan bersama individu-individu lain dalam jumlah agak banyak dalam satu hutan. Bunga merupakan bagian tanaman yang digunakan untuk obat hepatitis.
Menurut Burkill dan Heyne, bunga kenanga dikenal karena minyak atsirinya yang disebut dengan minyak kenanga atau minyak ylang-ylang. Komponen penyusun minyak atsirinya dilaporkan oleh Perry antara lain, p-kresol, l-lina-lool, geraniol, benzyl alcohol, eugenol, iso-eugenol, metil-eugenol. Tumbuhan ini juga mengandung asam organik seperti, format, asetat, valerat, benzoate, salisilat dan seskui-terpenoida serta alkaloida.
Dalam simposium ke-2 mengenai tumbuhan obat Indonesia di Jepang, Ogata melaporkan, bunga kenanga yang mempunyai kandungan alfa-kariofilena memberikan reaksi pengendalian gangguan hati yang kuat. Untuk menjadikannya obat diperlukan 2 – 3 tangkai bunga. Caranya, bunga-bunga itu dihancurkan dan diseduh dengan 1 gelas air panas. Setelah dingin, seduhan ini disaring. Air seduhan inilah yang diminum untuk sekali minum. Dalam sehari, boleh meminum ramuan ini hingga 3 kali. Obat dari bunga kenanga ini tidak mempunyai dampak sampingan dan relative aman.
Tanaman obat hepatitis lainnya adalah mengkudu. Tumbuhan ini berupa pohon kecil, berdaun lonjong mengkilat, dan berdaging. Buahnya berkutil-kutil, berbiji banyak, dan berwarna hijau kekuningan dengan bau tidak sedap. Pohon mengkudu tumbuh di daerah sampai ketinggian 1000 m dpl. Tumbuhan ini tumbuh liar di hutan-hutan dan di halaman.
Kandungan kimia pada tumbuhan ini antara lain, metilasetil ester, asam kapril, morinda diol, soranyidiol, morindin, dan morindon. Beberapa kepustakaan menyatakan adanya morindin dalam kulit akar dan kulit batang. Para pakar juga menyatakan, morindin merupakan suatu glikosida turunan antrakinon dengan struktur formula C26H28O14, senyawa yang mengalami hidrolisi menjadi morindon dan gugus gula. Namun, belum ada kesamaan pendapat antara peneliti satu dan lainnya mengenai morindin.
Bagian yang bisa digunakan untuk obat hepatitis adalah kulit batang dan buahnya. Bila dipilih kulit batang, diperlukan kulit batang kering seberat 1 gr untuk resep sekali minum. Bahan direbus dalam 1 gelas air sampai tinggal separuhnya. Begitu dingin air rebusan disaring dan diminum. Frekuensinya, 3 kali sehari. Sedangkan bila menggunakan buahnya, diperlukan 1 gr buah basah untuk membuat obat sekali minum. Buah tersebut dibuat bubur lalu diseduh dengan 1 gelas air panas. Hasilnya disaring untuk diminum. Dalam sehari bisa meminumnya 3 kali.
Pengobatan dengan kulit batang atau buah mengkudu dilarang bagi orang yang mempunyai kelainan fungsi jantung dan tekanan darah rendah. Dampak sampingan yang bisa ditimbulkan, adalah diare dan denyut jantung meningkat.



Intisari edisi Juli 1997